408 Ribu Warga Banten Menganggur

408 Ribu Warga Banten Menganggur
ILUSTRASI: Pencari kerja saat antre sebelum pembukan Job Fair Kota Serang di GOR Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, beberapa waktu lalu.

BANTENRAYA.CO.ID – Sebanyak 408 ribu warga Banten masih belum memiliki pekerjaan atau menganggur.

Angka tersebut berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Mei 2026.

Dibandingkan periode Februari 2026 lalu, jumlah tersebut telah berkurang sekitar 3 ribu orang dari sebelumnya sebanyak 411 ribu orang.

Akan tetapi, di balik membaiknya angka tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengusulkan agar waktu pelaksanaan survei ketenagakerjaan dievaluasi.

BACA JUGA : Data Penerima MBG Tak Sinkron

Alasannya, pelaksanaan Sakernas dinilai bertepatan dengan masa kelulusan sekolah dan perguruan tinggi sehingga berpotensi memengaruhi tingginya angka pengangguran yang tercatat.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten Septo Kalnadi mengatakan, setiap kali hasil survei ketenagakerjaan dirilis, Banten hampir selalu menjadi salah satu daerah dengan tingkat pengangguran yang tinggi.

Namun menurutnya, kondisi tersebut juga perlu dilihat dari waktu pelaksanaan surveinya.

“Ya tiap ada hasil sensus, angka partisipasi kerja atau pengangguran Banten memang selalu terlihatnya banyak. Ya karena menurut saya pelaksanaan waktu sensusnya yang tidak sesuai,” kata Septo, Rabu (5 Agustus 2026).

BACA JUGA : Walikota Serang Apresiasi Dua Siswa Berprestasi

Menurut Septo, pelaksanaan survei akan lebih representatif apabila tidak dilakukan pada periode ketika lulusan baru mulai memasuki pasar kerja.

Sebab, kata dia, pada masa tersebut para lulusan umumnya belum memiliki pekerjaan sehingga secara statistik masuk dalam kelompok pengangguran.

“Coba kalau saya boleh usul, pelaksanaan waktu sensus itu jangan dilakukan pada saat waktu kelulusan sekolah.

Ya namanya orang baru lulus sekolah, disensus, ditanya sudah punya pekerjaan belum? Ya (jawabannya) pasti belum, makanya angka pengangguran kita kelihatannya tinggi. Padahal ya karena waktu pelaksanaan sensusnya yang kalau menurut saya harus dievaluasi,” ujarnya.

BACA JUGA : Cilegon Ajukan Rp14 Miliar untuk Armada Sampah

Berdasarkan data BPS Provinsi Banten, jumlah penduduk usia kerja pada periode Mei 2026 telah mencapai 9,62 juta orang, meningkat sekitar 28 ribu orang dibandingkan Februari 2026.

Dari jumlah tersebut, jumlah angkatan kerja di Banten bertambah dari 6,24 juta orang menjadi 6,29 juta orang atau naik sekitar 54 ribu orang.

Di sisi lain, jumlah penduduk yang bekerja juga meningkat dari 5,83 juta orang menjadi 5,88 juta orang.

Kondisi tersebut membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 6,59 persen pada Februari 2026 menjadi 6,48 persen pada Mei 2026.

BACA JUGA : Bina Insan Tanamkan Santri Cinta Al-Qur’an Sejak Dini

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten Adam Sofian mengatakan, secara umum kondisi ketenagakerjaan di Banten menunjukkan tren yang positif.

Menurutnya, kenaikan jumlah penduduk yang bekerja turut diikuti meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi.

“Penduduk yang bekerja meningkat 57 ribu orang menjadi 5,88 juta orang. Sedangkan yang menganggur menurun sekitar 3 ribu orang menjadi 408 ribu orang,” ujar Adam.

Selain itu, Adam juga menyamlaikan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami peningkatan dari 65,01 persen pada Februari menjadi 65,39 persen pada Mei 2026.

BACA JUGA : Bank bjb Perluas Potensi Bisnis Melalui Kemitraan Strategis Bersama Yayasan Adi Upaya

“Secara umum, tingkat partisipasi angkatan kerja Provinsi Banten meningkat menjadi 65,39 persen dari sebelumnya pada Februari 2026 lalu yang berada diangka 65,01 persen.

Ini mengindikasikan aktivitas ekonomi juga meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan,” katanya.

Kendati demikian, Adam mengungkapkan, hasil Sakernas juga menunjukkan adanya perubahan struktur pasar kerja di Banten.

Pergeseran tersebut terlihat dari berkurangnya pekerja formal dan meningkatnya jumlah masyarakat yang bekerja di sektor informal.

BACA JUGA : Pemkab Serang Bakal Pasang Portal

Adam menuturkan, pihaknya mencatat jumlah pekerja berstatus buruh, karyawan, atau pegawai berkurang sekitar 100 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sebaliknya, pekerja yang berusaha sendiri justru bertambah sekitar 188 ribu orang.

Menurut Adam, kondisi itu tidak terlepas dari masih adanya pengurangan tenaga kerja di sektor industri pengolahan.

“Di industri masih terjadi pemutusan hubungan kerja pada Mei 2026 yang bisa kita tangkap. Sementara sektor pertanian bertambah sekitar 92 ribu pekerja dan perdagangan bertambah sekitar 8 ribu orang,” jelasnya.

Lebih lanjut Adam memaparkan, BPS juga mencatat kualitas tenaga kerja di Banten mulai menunjukkan perbaikan.

BACA JUGA : PT Cipta Paperia Diduga Cemari Sungai Ciujung, DLHK Ancam Bekukan Izin

Di mana, pekerja dengan pendidikan Diploma hingga perguruan tinggi kini mencapai 15,01 persen dari total penduduk bekerja.

Sementara, jumlah lulusan SMK yabg bekerja masih menjadi yang terendah dengan total presentase 12,07 persen atau sekitar 710 ribu orang.

“Ini menunjukkan dua hal. Pertama, aktivitas perekonomian menuntut kualifikasi tenaga kerja yang lebih tinggi. Kedua, memang semakin banyak penduduk kita yang memiliki tingkat pendidikan cukup baik,” katanya.

Dalam kesempatan lain, Kepala BPS Provinsi Banten Yusniar Juliana mengingatkan bahwa perubahan tingkat pengangguran tidak bisa hanya dilihat dari bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk yang bekerja.

BACA JUGA : Perawatan Area Intim Pertama di Serang

Menurutnya, dinamika jumlah angkatan kerja juga menjadi faktor penting yang memengaruhi besarnya angka pengangguran.

“Secara data dan persentase jumlah yang bekerja memang bertambah, tetapi dinamika angkatan kerja juga berubah. Ini yang memengaruhi angka pengangguran,” ujar Yusniar.

Ia menegaskan, perubahan struktur pasar kerja perlu menjadi perhatian karena penurunan angka pengangguran belum tentu sepenuhnya mencerminkan kuatnya daya serap lapangan pekerjaan.

“Artinya, pasar kerja kita masih belum cukup kuat menyerap tenaga kerja secara konsisten,” ujarnya. (raffi)

Pos terkait