BANTENRAYA.CO.ID – Selain akibat aktivitas galian tambang, banjir di beberapa wilayah di Provinsi Banten disebabkan akibat fungsi sungai yang berubah menjadi bangunan liar atau bangli.
Hal itu seperti yang terjadi di Kota Serang dan Kabupaten Serang.
Diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Serang telah menginvestigasi penyebab banjir di kawasan Banten Lama dan sejumlah wilayah Kota Serang.
Dari hasil investigasi itu, salah satu penyebab banjir di Kota Serang karena berubahnya fungsi sungai menjadi bangunan liar.
BACA JUGA : Sampah di Royal Baroe Usai Malam Pergantian Tahun Baru 2026
Demikian disampaikan Walikota Serang Budi Rustandi usai melakukan investigasi banjir di kawasan Banten Lama, dan sejumlah wilayah di Kota Serang, Sabtu (3 Januari 2026).
Sekadar diketahui, banjir melanda sejumlah wilayah Kota Serang usai diguyur hujan deras, Jumat 2 Januari 2026 sore, sekitar pukul 17.30.
Hujan deras mengakibatkan sungai, kali hingga drainase (saluran air) meluap, lantaran mengalami perubahan fungsi, penyempitan, dan penyumbatan.
Banjir di Kota Serang juga menyebabkan jembatan ambrol, pohon tumbang, dan rumah roboh.
BACA JUGA : Pendopo Kabupaten Serang Tidak Masuk List KPK Untuk Diserahkan ke Pemkot Serang
Imbas banjir ratusan warga terpaksa harus mengungsi di tempat yang aman di mushola, masjid, sekolah, hingga di sanak famili atau kerabatnya, lantaran banjir belum surut.
Walikota Serang Budi Rustandi mengatakan, banjir di kawasan Banten Lama dan sejumlah wilayah di Kota Serang, karena beralihnya fungsi sungai menjadi bangunan liar.
“Bisa dilihat tadi hasil dari investigasi banjir di tempat wisata Banten Lama, karena ada oknum-oknum warga yang mengalihkan fungsi sungai menjadi bangunan liar, dan insya Allah kita akan selesaikan ini semua,” ujar Budi, Minggu (4 Januari 2026).
Perihal kawasan Banten Lama, ia sudah merencanakan pekan ini mulai proses administrasi bersama Kepala Satuan Tugas (Satgas) percepatan pembangunan dan investasi Kota Serang akan melaporkan ke Sekda untuk melakukan rapat dan lain-lain agar ini bisa sukses, karena Banten Lama ini kalau dilihat petanya ini dikelilingi oleh kanal.
BACA JUGA : 478 Ribu Orang Menuju Sumatera
“Kalau nggak segera diselesaikan, ini bisa bahaya nanti bisa tenggelam kanalnya ya,” jelas dia.
Walikota Serang Budi Rustandi mengaku geram karena setiap banjir pemerintah daerah selalu dikambinghitamkan.
“Setelah turun ke bawah sedikit geram saya sebagai Walikota, karena setiap banjir menyalahkan Walikota dan tentunya Pak Gubernur juga,” ujar Budi, usai meninjau banjir di Kawasan Masjid Agung Banten.
Budi mengaku geram saat meninjau banjir di Kawasan Banten Lama, karena Kali Pamayangan yang berada di lokasi tersebut berubah fungsi menjadi mengecil.
BACA JUGA : 2026, Pemkot Serang Fokus Ambil Alih Pengelolaan Pasar Rau
“Tadi kita melihat sama-sama di mana kali yang aslinya lebar 15 meter sekarang jadinya tersisa satu meter.
Ini lebih bahaya dari Sukadana 1 kemarin. Ini yang terjadi banjir sampai saat ini kita rasakan semuanya. Bahkan saya melihatnya miris,” geram Budi.
Ia sendiri diinstruksikan Gubernur Banten Andra Soni untuk segera turun meninjau lokasi banjir di Kecamatan Kasemen dalam kondisi belum fit 100 persen.
“Pak Gubernur menelpon saya untuk segera melihat kondisi ke lapangan, walaupun kondisi saya sakit, namanya perintah Pak Gubernur saya laksanakan,” ucap dia.
BACA JUGA : Pemkot Serang Siapkan 8 Titik Kantung Parkir Demi Pengunjung Royal Baroe
Ia menduga adanya perubahan fungsi sungai yang mengecil karena ada oknum warga yang melakukan pelanggaran tata ruang.
“Nah ini tidak bagus. Berarti di sini ada oknum warga yang melakukan pelanggaran tata ruang mengalihkan fungsi sungai,” jelas dia.
Budi Rustandi menginstruksikan kepala wilayah di Kecamatan Kasemen untuk segera menindaklanjuti adanya perubahan fungsi sungai yang mengecil tersebut.
“Saya minta nanti Pak Camat segera mendata bangunan-bangunan liar tersebut. Nanti provinsi langsung akan mengerjakan.
BACA JUGA : Pemkab Serang Bayar Rp14,6 Miliar Agar Bisa Buang Sampah ke Kota Serang
Langsung kita pola semuanya. Termasuk lurah, DPUPR Kota Serang menyesuaikan dengan tata ruang yang pertama,” tegas Budi.
Menurut dia, jika berdasarkan peta harusnya lebar kali tersebut dikisaran 15 meter, sehingga ketika air hujan turun ke kali tidak meluap ke Kawasan Banten Lama,
hanya saja fakta di lapangan banyak rumah berdiri di sempadan Kali Pamayangan yang sudah berubah menjadi drainase. “Gimana nggak banjir. Ini kelewatan banget,” kesalnya.
Budi menegaskan, pihaknya tidak pandang bulu dalam menertibkan bangunan rumah yang banyak berdiri di sempadan Kali Pamayangan, karena telah melanggar peraturan tata ruang.
BACA JUGA : Pemkab Serang Bayar Rp14,6 Miliar Agar Bisa Buang Sampah ke Kota Serang
“Ada oknum warga yang memang harus ditegaskan sekarang, dan kita tidak pandang bulu. Siapapun itu orangnya kita tetap harus tegas ikuti aturan pemerintah,” tegas Budi.
Ia meminta penertiban bangunan rumah yang berdiri di sempadan Kali Pamayangan dilakukan pekan depan.
“Kita akan melaksanakan itu semua. Dan saya minta Minggu depan sudah mulai ekseskusi. Silakan didata,” titah dia.
Budi juga kembali memerintahkan kepada kepala wilayah di Kecamatan Kasemen untuk segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat, karena ia memikirkan masyarakat banyak yang terdampak dari adanya bangunan di bantaran Kali Pamayangan.
BACA JUGA : Ina Linawati, Resolusi 2026 Konsisten Menjadi Pribadi yang Lebih Baik
“Segera disosialisasikan Pak Camat, Pak lurah. Sesegera mungkin karena ini berdampak kepada masyarakat yang tidak bersalah.
Pak Kasatgas segera dirapatkan itu segera hari Senin dengan Pak Sekda. Dan Pak Cecep sampaikan laporkan kepada Pak Gubernur Banten apa yang sudah kita lakukan hari ini,” pintanya.
Ia juga meminta penangan banjir di Petekong agar dilanjutkan hingga dibuang ke laut. Langkah itu perlu dilakukan agar aliran air kembali lancar sampai ke hilir. “Karena ini kalau saya lihat petanya bahwa Banten Lama ini dikelilingi oleh kanal.
Kalau kanalnya aja mengecil jadi drainase gimana air nggak tumpah. Iya ini salah satu yang menjadi pemikiran kita semua. Mudah-mudahan masyarakat sadar ya,” tandas Budi.
BACA JUGA : Kawasan Sungai Rawa Danau Dibersihkan
Adapun penyebab banjir di Kelurahan Margaluyu, Budi menjelaskan, Pemkot Serang masih menunggu anggaran dari BBWSC3, karena sesuai dengan kolaborasi, tugas mereka adalah melakukan normalisasi pendangkalan di Kali Padek.
“Kami dari Pemerintah Kota Serang menyelesaikan banglinya. Banglinya sudah beres kan, tinggal mereka melakukan normalisasinya,” tuturnya.
Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia saat meninjau banjir di wilayah Kecamatan Kasemen menegaskan, Pemkot Serang bergerak cepat dan terukur dalam merespons bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah.
Penanganan banjir, kata dia, tidak hanya berfokus pada kondisi darurat, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar warga serta penyelesaian akar masalah banjir.
BACA JUGA : Mengenal Yudi Budi Wibowo, Nakhoda Baru Karang Taruna Banten
Langkah pertama yang menjadi prioritas adalah memastikan kebutuhan pangan warga terdampak tetap terpenuhi.
Pemkot Serang melalui OPD terkait telah mendirikan dapur umum di sejumlah titik pengungsian dan wilayah terdampak banjir.
Dapur umum ini disiapkan agar warga tetap dapat mengakses makanan layak selama masa tanggap darurat.
“Tidak boleh ada warga yang kelaparan di tengah bencana. Dapur umum kami pastikan berjalan dan menjangkau warga terdampak,” tegas Agis.
BACA JUGA : Ina Linawati, Resolusi 2026 Konsisten Menjadi Pribadi yang Lebih Baik
Langkah kedua, Pemkot Serang menjamin pelayanan kesehatan bagi warga terdampak banjir. Dinas Kesehatan bersama Puskesmas dikerahkan untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan sistem jemput bola.
Tenaga medis turun langsung ke lokasi pengungsian dan titik-titik banjir guna memberikan pemeriksaan kesehatan, pengobatan, serta pencegahan penyakit pasca banjir.
Selain itu, ketersediaan obat-obatan dan layanan kesehatan dasar terus dipantau agar warga tidak mengalami kesulitan akses layanan medis. Langkah ketiga, Pemerintah Kota Serang menekankan pentingnya penuntasan penyebab banjir khususnya sumbatan aliran air.
Pemkot Serang melakukan pembersihan drainase, normalisasi sungai, serta pengangkatan sampah dan material yang menghambat aliran air. Upaya ini dilakukan secara terpadu lintas OPD agar kejadian serupa tidak terus berulang.
BACA JUGA : Kawasan Sungai Rawa Danau Dibersihkan
“Penanganan darurat harus berjalan, tapi penyebab banjir juga wajib dituntaskan. Drainase, sungai, dan saluran air harus berfungsi optimal,” ujar Agis.
Dengan tiga langkah taktis tersebut, Pemkot Serang di bawah kepemimpinan Budi dan Agis berharap penanganan banjir dapat dilakukan secara komprehensif, mulai dari perlindungan warga, pelayanan dasar, hingga solusi jangka menengah untuk meminimalkan risiko banjir di masa mendatang.
Sementara itu di Kabupaten Serang, sebanyak 1.698 rumah di Kabupaten Serang sempat terendam banjir akibat curah hujan yang sangat tinggi pada 2-3 Januari 2025.
Selain itu pendangkalan yang terjadi di Sungai Tonjong Keramatwatu, Sungai Ciwaka di Kecamatan Ciruas dan Sungai Cikambuy di Kecamatan Kibin menjadi penyebab banjir.
BACA JUGA : Pemkot Serang Rencanakan Resmikan Royal Baroe Januari Tahun 2026
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Ajat Sudrajat mengatakan,
bencana hidrometerologi itu tersebar di 17 desa dan 11 kecamatan yang berdampak terhadap ribuan rumah yang terendam banjir, tanah longsor hingga tertimpa pohon tumbang.
“Bencana banjir terjadi Kecamatan Kibin meliputi dia desa yakni Desa Ketos dan Desa Nagara. Sementara di Kecamatan Kramatwatu meliputi dia Desa yakni Desa Pamengkang dan Desa Tonjong.
Banjir juga terjadi di Desa Barugbug Kecamatan Padarincang dan Desa Bolang Kecamatan Lebakwangi,” ujarnya, Minggu (4 Januari 2026).
BACA JUGA : Rumah Magot Hasilkan Pakan Ternak dan Urai Sampah Organik Hingga Ratusan Kilo Per Bulan
Ia menjelaskan, banjir juga terjadi di Kecamatan Ciruas tepatnya di Desa Cigelam dan Perumahan Bumi Ciruas Permai (BCP) di Desa Ranjeng. “Untuk di Serang Utara banjir juga melanda Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa dan Desa Sukajaya, Kecamatan Pontang.
Selain itu banjir juga terjadi di beberapa Desa di Kecamatan Anyar. Banjir itu sempat merendam sebanyak 1.698 rumah dan enam fasilitas umu,” katanya.
Ajat menuturkan, bencana pohon tumbang juga terjadi di Desa Mancak dan Desa Winong Kecamatan Mancak, Desa Sindanglaya Kecamatan Cinangka, Desa Sindang Mandi Kecamatan Baros dan Desa Mekar Baru, Kecamatan Petir.
“Akibat bencana pohon tumbang empat rumah mengalami rusak sedang hingga berat serta akses jalan yang sempat terputus,” jelasnya.
BACA JUGA : Pemkab Serang Bayar Rp14,6 Miliar Agar Bisa Buang Sampah ke Kota Serang
Ia mengungkapkan, bencana pergerakan tanah terjadi di Desa Labuan, Desa Mancak dan Desa Batukuda, Kecamatan Mancak.
Kemudian Desa Cikolelet Kecamatan Cinangka dan Desa Sasahan, Kecamatan Waringinkurung. “Akibatnya ada lima rumah warga yang terdampak tanah longsor tersebut,” paparnya.
Pihaknya juga merekomendasikan dilakukan pembangunan tembok penahan tanah (TPT) dan normalisai perbaikan irigasi untuk melakukan penanganan bencana.
“Kondisi saat ini sudah tertangani dan air juga sudah berangsur surut,” tuturnya.
BACA JUGA : Bawaslu Perkuat Legitimasi Pemilu
Sementara Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas mengatakan, Pemkab Serang menyediakan 10 ton bantuan logistik untuk membantu warga yang terdampak bencana.
“Langkah-langkah yang dilakukan Pemda itu pertama adalah tanggap darurat terkait dengan kebutuhan makan siap saji. Dinsos sudah menyiapkan 10 ton bantuan logistik,” ujarnya.
Pihaknya memastikan unsur BPBD tidak ada yang libur untuk melakukan penanganan di wilayah yang terdampak bencana.
“Enggak ada yang libur, semuanya WFA (Work From Anyware). Kita harus siap siaga menghadapi bencana yang mungkin akan datang,” katanya.
BACA JUGA : ASDA II Pemkot Serang Resmikan Pintu Perlintasan KA KALISKA KSB Demi Menjaga Keselamatan
Najib menuturkan, selain derasnya intensitas hujan, banjir tersebut didominasi disebabkan oleh penyempitan saluran drainase sehingga menyumbat aliran air.
“Di Tonjong itu adalah penyempitan sungai, jadi ada normalisasi sungai dari 3,5 kilometer baru selesai 1 kilometer. Longsor di kecamatan Mancak juga membuat jalan tertimbun, tapi sudah ditangani,” jelasnya.
Sementara itu, ratusan rumah warga tersebar di sejumlah kampung di Pandeglang Selatan, terdampak bencana banjir.
Banjir disebabkan akibat tingginya curah hujan yang mengakibatkan sejumlah sungai meluap hingga merendam permukiman penduduk.
BACA JUGA : Nataru, Indosat Optimalisasi Jaringan AI dan 5G Demi Beri Layanan Terbaik
Berdasarkan data yang dihimpun Banten Raya, dari Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang, banjir sempat merendam 1.874 rumah dengan total jiwa sebanyak 7.496 orang.
Korban banjir tersebar di sejumlah kampung, yakni Kampung Cililitan, Kampung Sindangresmi, Desa Idaman; Kampung Kadu Gede, Kampung Rancasadang, Desa Pasirdurung, Kecamatan Patia;
Kampung Caririgi, Desa Sukaseneng, Kecamatan Cikeusik; Kampung Cikoneng, Kampung Rancaduhang, Kampung Babakan Kambing, Kampung Leuwibuluh, Desa Ciherang, Kecamatan Picung; Kampung Leuwigede,
Desa Sumurbatu, Kecamatan Cikeusik; dan Kampung Apolo, Kampung Golat, Desa Pangkalan, Kecamatan Sobang.
BACA JUGA : Nataru, Indosat Optimalisasi Jaringan AI dan 5G Demi Beri Layanan Terbaik
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan BPBDPK Pandeglang, Acep Firmansyah menerangkan, bencana banjir yang menerjang beberapa kampung di wilayah Pandeglang Selatan sejak Sabtu (3 Januari 2025), sudah mulai surut.
Dengan ketinggian air sekitar 20-30 centimeter. “Dari data yang masuk, sebagian banjir berangsur surut, hanya ada tiga kampung tersebar di Kecamatan Cikeusik, Patia, dan Munjul yang belum surut, tapi hari ini (kemarin-red) sudah mulai surut,” kata Acep, Minggu (4 Januari 2025).
Dijelaskannya, petugas tim reaksi cepat terus melakukan pemantauan terhadap kampung yang terdampak banjir.
Masyarakat yang terkena banjir masih bertahan di rumahnya masing-masing. “Untuk saat ini masyarakat masih bertahan di rumahnya. Petugas kami terus melakukan asesmen di lapangan,” ujarnya.
BACA JUGA : Rumah Magot Hasilkan Pakan Ternak dan Urai Sampah Organik Hingga Ratusan Kilo Per Bulan
Kepala Seksi Rehabilitasi Rekonstruksi BPBDPK Pandeglang, Lilis Sulistiati memastikan, sebagian banjir sudah surut.
Saat ini petugas kebencanaan terus melakukan pemantauan dan pendataan rumah warga yang terdampak banjir.
“Sesuai laporan yang diterima dari tim reaksi cepat bahwa menginformasikan kondisi di sebagian lokasi banjir berangsur surut, dan sebagian kampung masih terendam,” jelasnya.
Katanya, banjir disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi di beberapa wilayah Kabupaten Pandeglang dengan durasi hujan yang cukup lama, sehingga aliran beberapa sungai meluap ke permukiman warga.
“Banjir dipicu oleh hujan lebat, menyebabkan sejumlah sungai mengalami peningkatan debit air,” katanya. (harir/andika/yanadi)





