BANTENRAYA.CO.ID – Penyakit tidak menular seperti Diabetes dan Hipertensi kini tidak lagi mengenal usia pengidapnya.
Penyakit yang selama ini kerap dikaitkan dengan kelompok lanjut usia, kini justru banyak ditemukan pada rentang usia produktif.
Hal itu sebagaimana tergambar dari hasil skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sejumlah daerah di Provinsi Banten yang menunjukkan jika temuan penderita diabetes dan hipertensi berada dalam jumlah besar.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti menyampaikan, k edua penyakit tersebut perlu dikendalikan sejak dini karena dapat memicu komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik.
BACA JUGA : Walikota Jenguk Korban Tawuran Suporter Bola
“Hipertensi dan diabetes ini merupakan cikal bakal bisa menyebabkan jantung kalau tidak kita kendalikan. Bahkan menjadi penyebab gagal ginjal dan layanan cuci darah,” kata Ati, Senin (14 September 2026).
Diketahui, berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten periode 10 Agustus 2026, lalu disebutkan bahwa, dari total 5.934.010 peserta yang diperiksa se-Provinsi Banten, sekitar satu dari lima peserta terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Yang mana, jika angka tersebut dikalkulasikan dari total peserta yang telah menjalani skrining, terdapat sekitar 1,18 juta orang yang menderita hipertensi di Banten.
Sementara, untuk temuan pada penyakit diabetes juga turut menunjukkan angka yang cukup tinggi. Dinkes Banten mencatat, proporsi peserta yang terdeteksi menderita diabetes berdasarkan hasil skrining CKG berada di kisaran 5,9 hingga 10 persen.
BACA JUGA : Anggaran Perbaikan Terbatas 1.138 Ruang Kelas SD Rusak
Dengan demikian, berdasarkan hasil perhitungan Banten Raya secara matematis, dengan jumlah peserta yang telah diperiksa, persentase tersebut setara dengan perkiraan sekitar 350 ribu hingga 593 ribu peserta yang terdeteksi memiliki gula darah tinggi atau diabetes.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan secara signifikan jika melihat pada data di periode Juni 2026.
Di mana, Dinkes Banten baru mencatat 94.607 kasus diabetes yang sekitar 73,8 persennya atau 69.809 kasus terjadi pada kelompok usia produktif 15 hingga 59 tahun.
Ati mengatakan, tingginya temuan diabetes pada usia produktif tidak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat.
BACA JUGA : Tim Dosen Untirta Kembangkan Rumah Aspirasi Digital untuk Perkuat Fungsi BPD Desa Menes
Ia menjelaskan, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula yang meningkat tanpa diimbang dengan aktivitas fisik menjadi salah satu penyebabnya.
“Yang harus menjadi perhatian adalah pola makan dan aktivitas fisik. Saat ini banyak anak dan remaja mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, sementara aktivitas fisik nya semakin berkurang,” papar Ati.
Selain pola makan dan minim aktivitas fisik, berat badan berlebih atau obesitas serta pola tidur yang tidak teratur serta faktor genetik juga menjadi faktor-faktor pemicu diabetes tipe 2.
Kondisi tersebut, kata Ati, dapat menyebabkan resistensi insulin sehingga tubuh tidak mampu merespons insulin secara optimal.
BACA JUGA : Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda Masih Nihil
“Selain karena faktor gaya hidup, biasanya diabetes juga terjadi ketika kedua orang tuanya menderita diabetes, oleh karenanya hal ini juga perlu untuk diedukasi kepada anak-anak usia remaja,” ujarnya.
Ati menuturkan, pihaknya mendorong agar masyarakat tidak menunggu sakit untuk mulai melakukan perubahan pola hidup.
Pembatasan konsumsi gula, aktivitas fisik dan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah yang terus didorong pemerintah.
“Pola hidup sehat dengan aktivitas fisik dan makan bergizi menjadi poin terpenting untuk menghindari risiko,” tegas Ati.
BACA JUGA : Horison Altama di Pandeglang Siap Akomodasi Bisnis hingga Wisata
Dinkes Banten juga menggencarkan edukasi kesehatan dan deteksi dini penyakit tidak menular di sekolah maupun masyarakat.
Menurut Ati, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat karena anak akan lebih mudah mengikuti pola hidup tersebut apabila seluruh anggota keluarga menerapkannya secara konsisten.
“Jangan menunggu sakit dulu. Biasakan keluarga menerapkan pola hidup sehat, kurangi gula berlebih, rajin berolahraga, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tegasnya.
Ati juga menegaskan, melalui program CKG pihaknya berupaya untuk menemukan kasus sebanyak-banyaknya guna melakukan penanganan awal agar tidak menyebabkan penyakit-penyakit turunan seperti jantung dan gagal ginjal.
BACA JUGA : Mutiara Carita Cottage Sediakan Mini Zoo
“Bagi yang didiagnosa misalkan hipertensi atau diabetes, hari itu juga kita berikan obat dan kalau obatnya habis kita edukasi untuk balik ke Puskesmas.
Ini sebagai upaya untuk mencegah penyakit seperti jantung, gagal ginjal, dan cuci darah,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ati mengatakan, upaya pencegahan juga yurut dilakukan dari sisi hulu melalui pemeriksaan kesehatan terhadap calon pengantin.
Ia mengatakan, pemeriksaan sebelum pernikahan dapat menjadi salah satu cara mengetahui kondisi kesehatan pasangan sekaligus mengantisipasi faktor risiko penyakit.
BACA JUGA : 3 Kapal Perang Cari 5 Jurnalis
Ia menyebutkan, Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan telah menjalin kerja sama yang mewajibkan calon pengantin menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk untuk mengetahui riwayat diabetes.
“Kalau kita hanya melakukan tata laksana pengobatan yang ada ini tidak cukup. Kalau hulunya tidak bisa kita antisipasi.
Oleh karena itu, mencegah perkawinan yang sesama menderita diabetes ini harus jadi perhatian kita sehingga cek kesehatan pada calon pengantin menjadi titik utama poin kita,” tandasnya.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pemerintah tidak hanya bertujuan untuk mengetahui jumlah warga yang telah mendapatkan layanan CKG.
BACA JUGA : Mulai Menipis, Harga Masker Melambung
Lebih dari itu, kata dia, pemeriksaan menjadi upaya untuk menemukan potensi penyakit sejak dini sehingga dapat segera ditindaklanjuti.
“Temuan penyakitnya masih seperti yang kita temukan sebelumnya, potensi diabetes dan tekanan darah tinggi masih mendominasi. Sudah disiapkan obatnya untuk ditindaklanjuti,” kata Andra.
“Maka, target utama kita bukan sekadar angka atau persentase capaian, melainkan bagaimana memastikan seluruh masyarakat Banten benar-benar mengikuti CKG dan terpantau kesehatannya,” tandasnya.
Berdasarkan hasil CKG Pemkab Serang, juga diketahui bahwa kasus penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi mulai merambah ke kalangan remaja akibat mengonsumsi makanan yang tidak sehat.
BACA JUGA : Tim Dosen Untirta Kembangkan Rumah Aspirasi Digital untuk Perkuat Fungsi BPD Desa Menes
Kepala Dinkes Kabupaten Serang Efrizal mengatakan, capaian CKG di wilayahnya sudah melampaui target nasional yang saat ini mencapai 122 persen dari target sebesar 46 persen.
“Secara jumlah 46 persen itu ada di angka 818.735 penduduk, sekarang kita sudah mencapai di angka 999.652 penduduk. Jadi, kita sudah di angka 122% dari target,” ujarnya di Setda Pemkab Serang.
Dari hasil skrining CKG, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah penyakit tidak menular yakni penyakit tekanan darah tinggi hingga kencing manis atau yang disebut diabetes melitus.
“Secara umum penyakit yang banyak kita temukan adalah hipertensi, darah tinggi. Kemudian yang lumayan cukup menonjol juga adalah kencing manis,” katanya.
BACA JUGA : Jadwal Kepulangan Atilah Tak Bisa Dipastikan
Efrizal menuturkan, saat ini hipertensi dan diabetes tidak lagi hanya menyerang di kalangan lanjut usia (Lansia), tetapi sudah menyebar ke semua usia termasuk remaja.
“Penyebarannya sudah tidak lagi terfokus pada orang tua. Sudah semua usia, tinggal nanti porsinya paling banyak di mana. Itu yang belum bisa saya kasih, nanti ada datanya,” jelasnya.
Efrizal mengingatkan hal ini berkaitan erat dengan pola makan sejak lima tahun terakhir, terutama pada anak-anak.
“Jajan makanan yang dikeonsumsi anak-anak hari ini dampaknya muncul pada lima tahun yang akan datang. Kita tahu pola makan anak-anak sekarang relatif tidak terlalu baik,” paparnya.
BACA JUGA : Pencarian Jurnalis Hilang Dilanjut
Ia juga menyoroti kebiasaan begadang anak muda sambil merokok, hal tersebut akan memicu dampak buruh bagi tubuh sehingga gampang terkena penyakit berbahaya.
“Kalau saya lihat malam-malam di sepanjang jalan pada jam 23.00 WIB sampai 24.00 WIB masih ramai. Jadi pola makan sehatnya kurang, banyak bergadang,” tuturnya.
Untuk mencegah hal tersebut, Dinkes akan memaksimalkan edukasi kesehatan melalui media sosial dengan kemasan yang menarik bagi anak muda.
“Kalau menurut saya sih yang paling menarik buat mereka ya medsos. Dikemas dengan baik, bentuknya entah drama kecil kayak model drakor, kita coba buat begitu, kayaknya lebih efektif,” ujarnya. (raffi/andika)





