BANTENRAYA.CO.ID – Sejumlah daerah di Provinsi Banten mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Dampaknya, masyarakat mengalami krisis air bersih, dan tanaman padi di sawah pun terancam gagal panen.
Meski hampir setiap tahun terjadi, namun pemerintah kabupaten/kota di Banten belum memiliki solusi penanganan yang tepat dan tuntas.
Sudah beberapa kali berganti kepala daerah, masalah kekeringan masih saja terjadi dan tak kunjung usai.
Di Kabupaten Lebak misalnya, ada beberapa wilayah yang langganan krisis air bersih saat musim kemarau.
BACA JUGA : 63 Kendaraan Dinas Kota Cilegon Hilang
Saat musim kemarau, masyarakat kesulitan mendapatkan air besih, dan berdampak juga pada tanaman padi milik petani. Hal yang sama pun terjadi di kabupaten/kota lain di Banten.
Terkait hal itu, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah memastikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak terus berupaya melakukan penanganan kekeringan yang tengah melanda sejumlah wilayah di Lebak.
Amir menyebut, Pemkab Lebak akan mendorong PDAM untuk melakukan ekspansi jaringan perpipaan ke wilayah-wilayah langganan krisis air bersih.
Menurut Amir, memposisikan PDAM sebagai ujung tombak menjadi hal yang krusial, lantaran di sejumlah wilayah memang sulit menemukan sumber air meski dilakukan pengeboran.
BACA JUGA : Nemuru Grand Anyer Palazo, Tempat Liburan Romantis di Bibir Pantai
“Beberapa wilayah di Lebak, seperti Maja dan Curugbitung misalnya, memang sulit meski dilakukan pengeboran, karena cadangan air bawah tanahnya sedikit.
Maka pipanisasi dari PADM lebih efektif sebagai solusinya,” kata Amir saat berbincang, Selasa (28 Juli 2026).
Selain itu Amir juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2027, Pemkab Lebak mengusulkan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik bidang air minum.
Lewat DAK itu, rencananya akan dilakukan peningkatan SPAM jaringan perpipaan. “Belum lagi di kita ada rencana pembangunan SPAM Regional Karian Timur.
BACA JUGA : Investasi Banten Semester I Tembus Rp66,3 Triliun
Nah itu juga tentu akan membantu mengurasi persoalan krisis air bersih di Lebak yang terjadi setiap tahun,” imbuhnya.
Untuk penanganan darurat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabuapaten Lebak sejauh ini terus menyalurkan bantuan air bersih ke masyarakat.
Dia juga meminta ke masyarakat terdampak krisis bersih yang belum mendapatkan bantuan air untuk melapor ke pihak desa “Nanti pihak desa yang mengajukan permohonan ke BPBD. Untuk penanganan darurat ini kita mengandalkan BTT,” terangnya.
Amir mengakui bahwa kekeringan di Lebak tak hanya berdampak pada berkurangnya pasokan air minum warga. Hal lain yang terjadi adalah sektor pertanian, khususnya areal persawahan.
BACA JUGA : Seleksi Kepala Sekolah Lambat
Pemkab Lebak lewat Dinas Pertanian (Distan) sejauh ini rutin menyalurkan bantuan pompa untuk sawah kekeringan yang masih dekat dengan sumber air.
Sementara untuk area persawahan yang hanya bisa mengandalkan air hujan, Amir meminta ke para petani untuk menyesuaikan musim tanamnya.
“Kalau itu petaninya harus menyesuaikan mas tanamnya ke depan. Kan gan mungkin menggunakan air PDAM,” ujarnya.
Di Kota Cilegon, kekeringan selalu dirasakan oleh masyarakat Grogol dan Pulomerak, terutama yang tinggal di daerah pegunungan.
BACA JUGA : Kolaborasi bank bjb dan DISPERINTRANSNAKER Tegal Dorong SDM Kompeten dan Melek Keuangan
Saat kemarau terjadi, warga krisis air bersih, dan harus mencari air ke sumber mata air yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya.
Saat dikonfirmasi Banten Raya, Walikota Cilegon Robinsar memastikan akan menyelesaikan masalah kekeringan tahunan lewat pipanisasi Perusahaan Daerah Air Minum Cilegon Mandiri (PDAM CM).
Menurutnya, proses pipanisasi akan diselesaikan pada Desember 2026 ini.
Robinsar mengakui jika masalah kekeringan di pegunungan Kecamatan Pulomerak dan Grogol selalu terjadi setiap tahun.
Namun Robinsar yakin dengan konsep pipanisasi yang dipasang secara sekunder langsung ke rumah warga akan menyelesaikan masalah kekeringan.
“Jadi pipanisasi induknya dari Grogol (kecamatan), sekarang sampai wilayah Cipala dan juga ke Suralaya.
Lalu akan ada pipa sekunder masuk ke rumah masing-masing. Tidak ada lagi kedepan bahasa kekurangan air. Itu akan ada suplai dari PDAM,” ujarnya, Selasa (28 Juli 2026).
Robinsar menyampaikan, pipanisasi menjadi paling ideal dibandingkan pengeboran sumur. Hal itu karena area rumah penduduk kondisinya berada di ketinggian, dan juga kontur tanahnya bebatuan.
BACA JUGA : Grand Zuri BSD Pikat Tamu Dengan Pelayanan ‘Feels Like Home’
“Sedang proses pekerjaan sejak tahun lalu. Kami pastikan ke depan tidak akan sulit lagi karena akan ada pipanisasi.
Karena kontur itu dataran tinggi dan bebatauan, jika sumur bor kegagalan sangat tinggi, jadi pipainsasi menjadi paling optimal meminimalisir kegagalan,” ujarnya.
Untuk solusi jangka pendek, Robinsar memastikan akan ada suplai air setiap hari dari CSR industri, OPD, BUMD dan lainnya.
“Kami pastikan tidak akan ada kekurangan. Setiap harinya itu dikirim dikirim dari berbagai pihak hingga musim kemarau selesai,” ucapnya.
BACA JUGA : Pinjol Bermasalah Rp1,4 Triliun
Di Kabupaten Pandeglang, kekeringan terus meluas. Tercatat sebanyak 31 desa di 11 kecamatan di Pandeglang mengalami krisis air bersih selama musim kemarau.
Adapun kecamatan terdampak kekeringan tersebar di wilayah Sindangresmi, Angsana, Sukaresmi, Munjul, Cikeusik, Patia, Picung, Koroncong, Karangtanjung, Cigeulis, dan Kecamatan Cadasari.
Total warga terdampak kekeringan mencapai 4.000 Kepala Keluarga (KK), setara dengan 12.000 jiwa. Kemudian bantuan air bersih yang sudah disalurkan oleh Pemerintah Daerah mencapai 195.000 liter.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Pandeglang, Nana Mulyana mengatakan, bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Pandeglang terus meluas.
BACA JUGA : Kolaborasi bank bjb dan DISPERINTRANSNAKER Tegal Dorong SDM Kompeten dan Melek Keuangan
Masyarakat yang mengalami krisis air bersih telah merata, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Hal itu terjadi karena sumber mata air yang digunakan oleh warga sudah mengering.
“Ya, meluas. Dari sebelumnya hanya 6 kecamatan, sekarang menjadi 11 kecamatan. Karena stok air yang biasa digunakan warga untuk setiap hari mulai habis,” kata Nana.
Dijelaskannya, pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan.
Bantuan air bersih disalurkan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berdasarkan laporan dari desa dan kecamatan.
BACA JUGA : Tujuh Sekolah Swasta Mundur dari Program Sekolah Gratis
“Yang kena dampak kekeringan sudah kami berikan bantuan air bersih. Kami terus menyiagakan armada truk tangki air serta berkoordinasi dengan Pemprov Banten untuk memaksimalkan suplai air bersih bagi masyarakat,” jelasnya.
Kepala Pelaksana BPBDPK Pandeglang Riza Ahmad Kurniawan menerangkan, pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan yang menerjang sejumlah kecamatan.
“Kami sudah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan sejak minggu kemarin, untuk mengoptimalkan langkah penanganan di lapangan dalam mendistribusikan bantuan air bersih, dan pendataan,” paparnya.
Dikatakannya, musim kemarau tahun ini datang lebih cepat, dan memiliki durasi yang lebih panjang dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.
BACA JUGA : Revitalisasi Alun-alun Dikerjakan Serentak di 4 Zona
Mengingat, potensi bencana kekeringan diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
“Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober. Logikanya kenapa lebih panjang karena datangnya lebih cepat.
Kemudian kondisi kemaraunya itu di bawah normal. Artinya, curah hujannya itu sangat rendah sehingga sangat kering,” terangnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang mencatat, hingga akhir Juli ini baru ada dua kecamatan yang terdampak kekurangan air bersih akibat musim kemarau.
BACA JUGA : Budi Rustandi Jadi Bapak Asuh Anak Yatim
Adapun dua kecamatan tersebut yakni Kecamatan Binuang dan Carenang. Namun kekeringan berpotensi meluas karena diprediksi puncak musim kemarau terjadi di Agustus.
Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas mengatakan, terdapat beberapa wilayah yang sudah dimitigasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Satu minggu yang lalu kita dapat info dari BMKG bahwa potensi kekeringan sampai Agustus,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia menjelaskan, BPBD terus melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dengan dibantu dari instansi lain seperti Perumda Tirta Al Bantani, Palang Merah Indonesia, Kodim 0602 Serang dan lain sebagainya.
BACA JUGA : Revitalisasi Alun-alun Dikerjakan Serentak di 4 Zona
“Kita juga sudah mengarahkan seluruh pihak termasuk beberapa perusahaan yang sudah siap dikolaborasikan oleh BPBD. Jadi pada saat ada kebutuhan yang mendesak itu sudah standby,” katanya.
Najib meminta masyarakat yang membutuhkan air bersih melapor melalui desa, kecamatan, lalu ke BPBD agar cepat ditindaklanjuti.
“Jangan lama-lama, jangan terlalu birokratis. Jadi begitu ada laporan dalam hari itu juga dikirim. Tembusannya ke Wakil Bupati selaku satgas kekeringan.” jelasnya
Terpisah, Sekretaris BPBD Kabupaten Serang Fakih memprediksi potensi kekeringan masih bisa bertambah karena puncak kemarau di Agustus.
BACA JUGA : Seleksi Kepala Sekolah Lambat
“Kalau potensi sih karena kita puncaknya bulan Agustus. Enggak menutup kemungkinan kecamatan yang lain juga kena. Mudah-mudahan bulan September sudah ada curah hujan,” ujarnya.
Secara umum, dari 29 kecamatan status ketersediaan air di Wilayah Kabupaten Serang saat ini masuk dalam kategori sedang.
“Pernyataan BMKG juga kondisi air dalam kondisi sedang. Kebetulan di BPBD armada hanya dua, makanya masih sangat minim sekali, sangat kurang untu mensuplai air,” katanya
Saat ini fokus utama Pemkab adalah pemenuhan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Untuk pertanian, masih dalam tahap pemetaan potensi gagal panen/puso.
BACA JUGA : Kolaborasi bank bjb dan DISPERINTRANSNAKER Tegal Dorong SDM Kompeten dan Melek Keuangan
“Kita fokus ke rumah tangga dulu. Di Carenang ada sekitar 1.000 kepala keluarga yang terdampak, dan di Binuang sekitar 200 kk yang terdampak,” jelasnya.
Bencana kekeringan juga dirasakan warga Kelurahan Sawah Luhur dan Bendung, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Imbas kekeringan, warga Kecamatan Kasemen mengalami krisis air bersih lantaran sumber air warga Kasemen mengering.
Sekretaris Daerah Kota Serang Nanang Saefudin mengatakan, untuk tindakan langkah cepat dalam rangka penanganan krisis air bersih yakni menugasan BPBD dan Perumdam Tirta Madani Kota Serang untuk melayani kebutuhan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih.
BACA JUGA : Ketua TP PKK Banten Ingatkan Pentingnya Pendidikan Karakter bagi Siswa
“Langkah cepatnya kita perintahkan BPBD dan Perumdam menyalurkan air bersih ke warga terdampak kekeringan untuk memenuhi ketersediaan air bersihnya,” ujar Nanang.
Adapun untuk program jangka panjangnya, kata dia, Perumdam Tirta Madani Kota Serang dengan penyertaan modal yang diberikan oleh Pemkot Serang agar dapat melayani masyarakat Kecamatan Kasemen yang setiap tahun hampir mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
“Perumdam Tirta Madani Kota Serang secara bertahap memprioritaskan warga Kasemen untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Kasemen,” jelas dia.
Ditanya soal keluhan warga Kelurahan Sawah Luhur perihal sambungan air PAM Perumdam Tirta Madani Kota Serang yang tersendat hingga akhirnya memutuskan berhenti berlangganan, Nanang menegaskan bahwa hal itu terjadi lantaran Bendungan Karet sudah tidak bisa berfungsi, sehingga otomatis air baku yang dari Cibanten menjadi payau.
BACA JUGA : Abuya Muhtadi Deklarasi Tolak LGBT
Menurut dia, jika Bendungan Karet bisa menahan tidak ada penetrasi air laut sehingga air tidak menjadi payau.
“Itu sudah kami usulkan beberapa kali ke Kementerian PUPR dan mungkin memang harus kita tindaklanjuti lagi dalam rangka memenuhi pasokan kebutuhan air bersih.
Karena Bendungan Karetnya sekarang rusak otomatis baku air menjadi payau kalau mau dialirkan juga menjadi percuma.
Melalui Pemkot Serang walaupun sudah beberapa kali komunikasi dengan Kementerian PUPR agar Bendungan Karet bisa diperbaiki dalam rangka memenuhi baku air di Kasemen,” jelasnya. (aldi/uri/yanadi/andika/harir)





