BANTENRAYA.CO.ID – Sebanyak 638 warga Baduy di Kabupaten Lebak mengikuti skrining tuberkulosis (TBC) dan cek kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten di wilayah adat tersebut.
Meski pemeriksaan telah dilakukan, akan tetapi hasil lengkap temuan kasus belum dibuka ke publik.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, skrining tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah memetakan kondisi kesehatan masyarakat Baduy, baik yang berada di wilayah Baduy Luar maupun Baduy Dalam.
Ia menjelaskan, pelayanan kesehatan dilakukan secara langsung di tiga titik berbeda agar menjangkau lebih banyak warga.
BACA JUGA : bank bjb Dukung Semarang Mountain Race 2026, Ribuan Pelari Ramaikan Kawasan Ungaran
“Yang mengikuti skrining ada 638 orang yang dilakukan CKG dan skrining TBC,” ujar Ati, Senin (27 April2026).
Menurut Ati, lokasi pelayanan di Ciboleger difokuskan untuk menjangkau masyarakat Baduy Luar. Sementara di Binong, layanan menyasar warga Baduy Dalam, khususnya masyarakat di Kampung Cikertawana dan Cibeo.
Sedangkan titik layanan di Cijahe diperuntukkan bagi warga di wilayah Cikeusik.
“Kita buka pelayanan di tiga titik supaya akses warga lebih mudah. Jadi masyarakat tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan,” katanya.
Ati menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya sebatas skrining, tetapi juga disertai layanan pengobatan langsung bagi warga yang terindikasi memiliki gangguan kesehatan.
“Bukan hanya diperiksa, tapi kalau ada yang terindikasi langsung kita obati segera,” ujarnya.
Saat ditanya jumlah warga yang terindikasi TBC, Ati tidak membeberkan data rinci. Ia menyebutkan, hasil lengkap pemeriksaan nantinya akan disampaikan secara langsung oleh Gubernur Banten.
“Pokoknya dari 600 itu ya, kita obatin langsung segera. Nanti ada waktunya, kata Pak Gubernur beliau yang akan umumkan sendiri,” katanya.
BACA JUGA : SDS YPWKS IV Cilegon Bersinar dengan Karya dan Karakter di Hari Kartini
Ati menambahkan, upaya skrining tersebut juga menjadi bagian dari langkah awal pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan di wilayah adat yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan medis.
“Kita ingin memastikan bahwa masyarakat Baduy tetap mendapatkan hak layanan kesehatan yang sama dengan masyarakat lainnya,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Sahabat Relawan Indonesia Muhammad Arif Kirdiat mengingatkan bahwa persoalan TBC di wilayah Baduy perlu ditangani lebih serius dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil skrining awal yang dilakukan relawan di tiga titik layanan kesehatan, sekitar 70 persen warga yang diperiksa disebut menunjukkan indikasi TBC.
BACA JUGA : Nasabah Bank BJB Dapat Akses Eksklusif Suroboyo 10K
“Dari tiga titik yang kami lakukan screening, sekitar 70 persen hasilnya mengarah ke TBC. Ini sudah lampu merah,” kata Arif.
Menurutnya, penanganan TBC tidak bisa berhenti pada tahap pemeriksaan awal karena pasien harus dipantau secara rutin selama masa pengobatan.
“Kalau hanya datang, periksa lalu selesai, itu tidak cukup. Harus ada yang standby untuk memastikan pengobatan berjalan,” tegasnya.
Arif juga menyoroti keterbatasan tenaga medis di wilayah Baduy yang memiliki sekitar 16 ribu penduduk, namun hanya didukung lima puskesmas dengan jumlah dokter terbatas.
BACA JUGA : Undian Simpeda 2026, Momentum Asbanda Dorong Ekonomi Daerah melalui Inovasi Pembiayaan
Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah memperkuat intervensi agar penyebaran TBC di kawasan adat tersebut tidak semakin meluas.
“Kami berharap pemerintah daerah turun langsung. Relawan punya keterbatasan, baik dari sisi kewenangan maupun sumber daya,” pungkasnya. (raffi)






