Mengenang Kejayaan Komplek Pendidikan Prisma, Dijuluki Sekolah Anak Borju

Dijuluki Sekolah Anak Borju
Ruang kelas sekolah Prisma masih bagus dan terawat hingga saat ini, meski sudah beralih fungsi dari sekolah menjadi gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bina Bangsa, Jumat (3 Juli 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Pada tahun 1990-an, ada satu sekolah swasta tingkat SLTA yang begitu bergengsi di Serang dan menjadi impian banyak pelajar dari Serang, Cilegon, dan daerah sekitarnya. Julukan sekolah anak borju melekat kuat karena mayoritas siswanya berasal dari keluarga berada.

Namun, kemewahan bukan satu-satunya identitas sekolah ini. Sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah dengan fasilitas paling lengkap dan prestasi yang membanggakan.

Namanya sekolah Prisma. Kompleks pendidikan Prisma saat itu terdiri atas tiga jenjang, yakni SMA, SMEA, dan SMK.

Di saat sebagian besar sekolah masih mengandalkan kipas angin untuk mengusir hawa panas, ruang-ruang kelas di Prisma sudah dilengkapi pendingin udara.

BACA JUGA : Bina Insani Perkuat Program Takhosus

Ketika studio musik masih menjadi barang mewah, Prisma telah memiliki studio band sendiri. Bahkan saat sekolah lain belum mengenal cheerleaders, Prisma sudah lebih dulu memilikinya.

Bagi para remaja Serang kala itu, bersekolah di Prisma menjadi sebuah kebanggaan.

Meilany, salah seorang alumni yang menjabat Ketua OSIS SMA Prisma pada 1999, masih mengingat jelas bagaimana sekolah itu menjadi simbol kemajuan pendidikan swasta di Serang.

Meski berasal dari keluarga sederhana, Meilany berkesempatan mengenyam pendidikan di Prisma berkat beasiswa penuh selama tiga tahun.

BACA JUGA : Perangi Kejahatan Digital, IASC Tutup 12.824 Pinjol Ilegal

“Prisma itu sekolahnya bagus banget dan banyak prestasinya. Prestasi akademik maupun non akademiknya,” kenang Meiany kepada Banten Raya, akhir pekan lalu.

Meilany menjelaskan, kompleks pendidikan Prisma saat itu terdiri atas tiga jenjang, yakni SMA, SMEA, dan SMK. Laboratorium yang dimiliki juga tergolong lengkap untuk ukuran zamannya.

Tersedia laboratorium IPA, Fisika, Biologi hingga laboratorium Bahasa.

Pilihan kegiatan ekstrakurikulernya pun beragam. Basket, voli, softball, karate, taekwondo, pencak silat, marching band, hingga band sekolah dapat diikuti para siswa.

BACA JUGA : Narkoba Senilai Rp90,5 Miliar Dimusnahkan

Keunggulan itulah yang membuat siswa Prisma lebih leluasa mengembangkan minat dan bakat.

“Kalau anak sekolah lain mau latihan band harus menyewa studio rentalan, anak Prisma tinggal latihan di studio sekolah,” ujar Meilany.

Band-band pelajar Prisma pun kerap tampil dalam berbagai festival musik.

Begitu pula tim olahraga dan ekstrakurikuler lainnya yang sering membawa pulang gelar juara. Prestasi akademik para siswanya juga tak kalah membanggakan.

BACA JUGA : Perangi Kejahatan Digital, IASC Tutup 12.824 Pinjol Ilegal

Pada 1999, saat wilayah Banten masih menjadi bagian Provinsi Jawa Barat, Prisma dipercaya mengirimkan delegasi mewakili Jawa Barat dalam kegiatan nasional Remaja Kader Bangsa yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Meilany menjadi salah satu siswa yang terpilih mengikuti kegiatan tersebut.

ANAK-ANAK PLUS

Di balik citranya sebagai sekolah elite, Prisma juga memiliki sistem yang unik. Para siswa dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelas reguler dan kelas plus.

Kelas plus dihuni siswa-siswa dengan prestasi akademik maupun nonakademik terbaik dari setiap kelas dan angkatan. Mereka belajar di gedung tersendiri yang lebih tenang dibandingkan kelas reguler.

BACA JUGA : 644 Truk Tambang Ditindak dalam 21 Hari

Jika ruang kelas biasa hanya menggunakan kipas angin, ruang kelas plus telah dilengkapi pendingin udara atau AC.

Bagi banyak siswa, bisa masuk kelas plus menjadi kebanggaan tersendiri. Meilany merupakan satu dari beberapa anak plus itu. “Jadi semangat kalau masuk kelas plus,” kata Meilany.

Meski terkenal sebagai sekolah anak orang berada atau borju, tidak semua siswanya berasal dari keluarga berkecukupan.

Meri Indah Yani, alumni angkatan 1998/1999, justru berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

BACA JUGA : MBG Disetop, Harga Sembako Turun

Meri mengungkapkan, dari sekitar 1.000 siswa Prisma saat itu, dia memperkirakan 20 persennya berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

Meri mengaku harus banyak memutar otak agar bisa jajan di sekolah. Beruntung, teman-temannya baik dan kerap mentraktirnya di kantin.

“Bayaran SPP waktu itu sekitar Rp25 ribu, tapi ada teman yang uang jajannya sehari Rp50 ribu. Buset. Nonton film di bioskop Twenty One kalau nggak salah waktu itu Rp4 ribu loh,” kenangnya sambil tertawa.

Namun, perbedaan latar belakang ekonomi tak pernah menjadi penghalang dalam pergaulan mereka. Sebaliknya, Meri justru merasa diterima dan memiliki banyak teman dari SMA, SMEA maupun SMK Prisma.

BACA JUGA : Perangi Kejahatan Digital, IASC Tutup 12.824 Pinjol Ilegal

Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang membuat masa-masa sekolah menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Meri menceritakan, ada satu tradisi yang selalu dinantikan sekaligus dihindari para siswa Prisma. Siapa pun yang berulang tahun akan menjadi sasaran teman-temannya untuk diceburkan ke kolam ikan yang berada di belakang musala sekolah.

Tak peduli seberapa keras berusaha menghindar, para siswa biasanya tetap berakhir basah kuyup.

Sebagai siswa yang memiliki banyak teman, Meri pun tak pernah lolos dari tradisi tersebut. “Kalau ada yang ulang tahun wajib banget diceburin di situ,” ujar Meri.

BACA JUGA : Gubernur Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak mereka meninggalkan bangku sekolah. Bangunan sekolah mungkin berubah, zaman pun berganti.

Namun bagi Meilany dan Meri, Prisma tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.

Sekolah yang dahulu dijuluki sebagai sekolah anak borju itu, bagi mereka bukan hanya dikenal karena fasilitas mewah atau siswanya yang bergaya.

Prisma adalah tempat lahirnya prestasi, persahabatan, dan kenangan yang terus hidup hingga sekarang. (tohir)

Pos terkait