Siswa SD Singarajan Diajarkan Membuat Filter Air Sederhana oleh KKM Uniba Kelompok 33

Murid Digembleng Ala Militer
DIGEMBLENG: Instruktur dari Kopassus saat membina siswa kelas 12 SMKN 1 Kota Serang, Jumat (21 Agustus 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Siswa kelas V SD Negeri Singarajan, Desa Singarajan, Kecamatan Pontang mendapatkan edukasi pentingnya air bersih dari mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa Universitas Bina Bangsa (KKM Uniba) Kelompok 33 Desa Singarajan, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kepala SDN Singarajan mengapresiasi mahasiswa KKM Uniba Kelompok 33 atas pelaksanaan kegiatan praktik pembuatan filterisasi air sederhana bersama siswanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut sangat positif karena memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa sekaligus menanamkan pemahaman tentang pentingnya air bersih dan menjaga lingkungan.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKM Kelompok 33. Anak-anak tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga diajak untuk praktik langsung membuat penyaring air dengan bahan-bahan sederhana.

BACA JUGA : KKM Kelompok 72 Uniba Gelar Sosialisasi untuk Tingkatkan Kesadaran Siswa tentang Bullying

Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan pengetahuan, kreativitas, kerja sama, dan kepedulian siswa terhadap lingkungan,” katanya.

Kepala SD Negeri Singarajan berharap kegiatan edukatif yang dilakukan mahasiswa KKM Kelompok 33 dapat memberikan pengalaman dan kesan positif bagi para siswa serta menjadi motivasi untuk terus belajar melalui kegiatan-kegiatan praktik yang kreatif dan inovatif.

Sementara itu, Ketua KKM Uniba Kelompok 33 Desa Singarajan Jingga Erlangga mengatakan, pemahaman tentang pentingnya air bersih tidak hanya dapat diberikan melalui pembelajaran teori, tetapi juga melalui praktik secara langsung.

“Kegiatan kami lakukan pukul 08.00–10.00 WIB dan merupakan bagian dari program kerja Bidang Pendidikan, Keagamaan, dan Penguatan Karakter Masyarakat.

BACA JUGA : 232 Pasien Kanker Dikemoterapi

Sebanyak 42 siswa-siswi kelas V mengikuti kegiatan dengan mempraktikkan secara berkelompok pembuatan alat penyaring air sederhana menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar,” katanya.

Jingga mengungkapkan, edukasi dilaksanakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya ketersediaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengenalkan konsep sederhana proses filtrasi atau penyaringan air.

“Melalui metode pembelajaran berbasis praktik atau learning by doing, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam membuat dan menguji alat penyaring air,” tuturnya.

Kegiatan edukasi diawali dengan pembukaan oleh mahasiswa Bidang Pendidikan, yaitu Amalia Chairunnisa, Dwi Lestio Wulandari, Devi Nurviyanti, dan Maya Nur Pratiwi.

BACA JUGA : Gubernur Dorong Harmony Speech Festival Jadi Ruang Perkuat Toleransi dan Persatuan

Setelah pembukaan, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai pentingnya air bersih, fungsi proses filtrasi, serta alat dan bahan yang digunakan dalam praktik.

Bahan yang digunakan terdiri atas botol mineral bekas, pasir, batu kerikil, arang, kapas, dan tisu.

Pemanfaatan bahan-bahan tersebut sekaligus memperkenalkan kepada siswa bahwa barang yang sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

Setelah penyampaian materi, siswa dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing terdiri atas sekitar 8–9 orang.

BACA JUGA : Pengamat Sebut Pemerintah Harus Introspeksi

Setiap kelompok kemudian mendapatkan arahan untuk membuat alat penyaring air sesuai dengan tahapan yang telah dijelaskan oleh mahasiswa.

Selama proses praktik berlangsung, mahasiswa mendampingi setiap kelompok dan membantu siswa ketika mengalami kesulitan.

Mahasiswa juga menjelaskan fungsi dari setiap lapisan bahan yang digunakan dalam alat penyaring, sehingga siswa tidak hanya mengikuti tahapan pembuatan, tetapi memahami peran masing-masing bahan dalam proses filtrasi.

Setelah seluruh kelompok menyelesaikan alat penyaring, masing-masing kelompok melakukan pengujian terhadap air yang telah disiapkan.

BACA JUGA : Pawai Budaya Kota Serang Didorong Tembus Mancanegara

Air yang sebelumnya tampak keruh kemudian disaring menggunakan beberapa lapisan bahan yang telah disusun.

Hasil penyaringan menunjukkan bahwa air tampak menjadi lebih jernih setelah melewati lapisan penyaring tersebut.

Antusiasme siswa terlihat selama proses praktik, terutama ketika mereka dapat melihat secara langsung perubahan kondisi air sebelum dan sesudah melalui proses penyaringan.

Kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena siswa dapat mengamati hasil dari proses yang mereka lakukan sendiri.

BACA JUGA : Pendapatan Ditarget Cuma Rp9,5 Triliun

Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, mahasiswa memilih kelompok dengan hasil penyaringan air yang paling jernih untuk mendapatkan reward berupa makanan ringan.

Pemberian apresiasi tersebut menjadi bagian dari penutup kegiatan praktik sekaligus mendorong siswa untuk mengikuti kegiatan dengan aktif.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Sebelum kegiatan berakhir, mahasiswa juga memberikan pesan kepada siswa agar senantiasa menjaga kebersihan lingkungan serta memanfaatkan barang-barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Melalui kegiatan tersebut, siswa memperoleh pengetahuan mengenai prinsip dasar filtrasi sekaligus pengalaman dalam membuat alat penyaring air sederhana.

BACA JUGA : KKM Kelompok 72 Uniba Gelar Sosialisasi untuk Tingkatkan Kesadaran Siswa tentang Bullying

Selain aspek pengetahuan, kegiatan secara berkelompok juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, serta menyelesaikan permasalahan selama proses praktik.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan dan pentingnya menjaga kualitas air.

Pemanfaatan botol mineral bekas dan bahan sederhana lainnya sebagai media praktik turut memberikan pemahaman bahwa barang bekas dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan yang bersifat edukatif.

Mahasiswa KKM 33 berharap pengetahuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan pentingnya ketersediaan air bersih.

Selain itu, pembelajaran berbasis praktik seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu metode pembelajaran yang menarik, interaktif, serta mampu mendorong kreativitas dan keterampilan peserta didik. **

 

Pos terkait