Ekonimi Sulit, HUT RI Tak Perlu Pesta

PENJUAL BENDERA: Maman dan ratusan bendera yang ia jual di Jalan Komplek Perkantoran Cikupa, Pandeglang, Rabu (31/7)(Aldi Setiawan/Banten Raya)

BANTENRAYA.CO.ID – Ketua Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas) Irhamullah memberikan catatan kritis kepada pemerintah pusat dan daerah menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke 81.

Menurutnya kemeriahan pada 17 Agustus itu tidak relevan ketika jutaan rakyat masih terhimpit kemiskinan, pengangguran, dan harga kebutuhan pokok yang melambung.

“Merayakan kemerdekaan tanpa memastikan rakyatnya sejahtera itu sama saja menutup mata. Pantaskah kita berpesta?” ujar Irhamullah kepada Banten Raya, Selasa 11 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,22 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka 4,65 persen.

BACA JUGA : Gubernur Pastikan Tak Ada Titipan

Yang memprihatinkan adalah kelompok terbesar justru berasal dari lulusan SMA 28 yang mencapai 28 persen dan SMK 22,35 persen.

Dari 155,41 juta angkatan kerja, hanya 148,19 juta yang bekerja. Sementara 10,73 juta lainnya masih setengah menganggur.

“Anak bangsa lulus sekolah tapi tidak ada kerja. Ini ironi di usia kemerdekaan ke-81,” katanya.

Lebih ironinya, pengangguran tidak hanya menimpa lulusan rendah. Lulusan D4, S1, S2, dan S3 tercatat 1,03 juta oran atau menyumbang 14,31 persen dari total pengangguran.

BACA JUGA : Wagub Dorong Anak Muda Gencarkan Promosi Pariwisata Banten

Tingkat Pengangguran Terbuka kelompok perguruan tinggi ini sebesar 5,38 persen.

“Ini bencana. Lulusan D3 dan S1 nganggur itu bencana di atas bencana. Karena mereka sudah mendapat banyak pendidikan dan training tapi tidak digunakan,” paparnya.

Irham menuturkan, BPS juga mencatat sebanyak 22,93 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan per Maret 2026. Persentasenya 8,07 persen dan hanya turun 0,18 poin dari September 2025.

“Garis kemiskinan nasional bahkan naik menjadi Rp669.235 per kapita per bulan, atau Rp3.091.866 per rumah tangga.

BACA JUGA : 437 Pramuka Banten Berangkat ke Jambore Nasional

Angkanya turun, tapi 22 juta lebih itu bukan angka. Itu manusia. Itu keluarga yang tiap hari mikir makan,” jelasnya.

Ia menilai HUT RI ke 81 hanyalah euforia pejabat semata karena masyarakat di tingkat bawah terdampak gejolak minyak dunia yang membuat harga BBM non-subsidi meroket.

Pertamax kini dihargai Rp16.000 – Rp17.000 per liter. Pertamax Turbo naik jadi Rp20.760 per liter* per 1 Juni 2026.

“Kenaikan itu memicu efek domino. Biaya produksi dan distribusi naik, lalu harga sembako ikut melonjak. BBM masih jadi motor penggerak, kalau BBM naik, semua naik, rakyat yang bayar,” paparnya.

BACA JUGA : 408 Ribu Warga Banten Menganggur

Pemerintah memastikan BBM subsidi Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir 2026, dan menyalurkan BLT serta bantuan pangan untuk 33,24 juta keluarga.

Tapi menurutnya itu belum solusi jangka panjang. Bagi Irhamullah, HUT ke-81 RI seharusnya jadi momentum refleksi, bukan sekadar seremonial.

“‘Dari kebersamaan, kita kuatkan persatuan’ itu bagus. Tapi bagaimana bersatu kalau perut kosong? Bagaimana gembira kalau masa depan buram?” tuturnya.

Ia mendesak pemerintah mengalihkan fokus bukan menambah spanduk dan lomba, tapi menambah lapangan kerja dan menurunkan harga kebutuhan pokok.

BACA JUGA : Pertumbuhan Ekonomi Banten Turun

“Selama 22,93 juta orang masih miskin dan jutaan masih menganggur, maka perayaan 17 Agustus akan terasa hampa. Karena kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika rakyatnya merdeka dari kemiskinan,” katanya. (andika).

Pos terkait