BANTENRAYA.CO.ID – Penjualan hewan kurban di Banten diliputi rasa kekhawatiran yang mendalam bagi para pedagang. Sebab, permintaan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 2026 ini lesu.
Kondisi ini terjadi lantaran daya beli masyarakat terhadap hewan kurban menurun.
Hal ini salah satunya dipengaruhi karena kondisi ekonomi masyarakat yang lesu imbas efisiensi anggaran pemerintah, dan tingginya biaya perawatan hewan kurban, sehingga berimbas terhadap daya beli warga terhadap hewan kurban.
Pendagang hewan kurban di Kota Serang, Dadang mengatakan, saat ini domba yang tersedia di lapaknya berjumlah 200 ekor, dan sapi 30 ekor. Dua jenis hewan kurban itu didapatkan dari Jawa Barat dan Sumatera.
BACA JUGA : AGIS Kindergarten and Primary Kota Serang, Komitmen Ciptakan Generasi Berkarakter
“Domba dari Garut, kalau sapi dari Garut dan Lampung,” ujar Dadang, ditemui di lapaknya di Jalan Bhayangkara, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin (18 Mei 2026).
Ia mengungkapkan, mendatangkan hewan kurban dari Garut dan Lampung karena masih zona hijau.
Menurutnya, hewan kurban dari Jawa sering banyak yang terserang penyakit kuku. “Makanya saya ngambilnya dari Garut dan Lampung. Masih zona hijau. Kalau di Jawa udah merah,” ungkap dia.
Dadang menyebutkan, harga domba dan sapi per ekor bervariatif tergantung bobotnya.
BACA JUGA : CMBBS Terapkan Kurikulum Cambridge
Harga domba termurah dengan bobot 18-20 kilogram (kg) dijual seharga Rp 2 juta, dan termahal dijual Rp7 juta dengan bobot kisaran 70-80 kg.
Untuk sapi, harga termurah dengan bobot dikisaran 220-250 kg dijual Rp20 juta, dan harga tertinggi dengan bobot 700 kg dibanderol Rp48 juta.
Dadang mengaku sudah hampir sebulan membuka lapak penjualan hewan kurban, namun hingga kini peminatnya masih sepi.
“Yang sudah terjual baru 50 ekor,” ucap Dadang yang mengaku sejak 1994 sudah menjadi peternak domba dan sapi.
BACA JUGA : Flyover Unyur Rampung 8 Bulan
Menurut Dadang, penjualan hewan kurban tahun ini sedikit lesu bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Kayaknya ada penurunan ini. Sekitar 10 sampai 20 persen lah,” ucap Dadang.
Ia menjelaskan, penurunan permintaan terhadap hewan kurban dipengaruhi oleh beberapa faktor,
salah satunya kondisi ekonomi masyarakat yang lagi lesu imbas efisiensi pemerintah pusat, sehingga berimbas terhadap daya beli warga terhadap hewan kurban.
“Dari 200 ekor, baru 50 ekor. Tahun sebelumnya, kalau sampai hari ini ya nyampe 100-an ekor terjual,” ungkap dia.
BACA JUGA : Abah Jempol Dituntut 3,5 Tahun Penjara
Dadang berharap pemerintah daerah menginstruksikan kepada instansi-instansinya untuk berkurban.
Tradisi berkurban yang selama ini identik dengan semangat berbagi dan meningkatnya aktivitas ekonomi musiman, kini ikut terdampak situasi keuangan warga yang melemah.
“Kayak dulu lagi kayak zaman Bu Atut. Mantap Bu Atut itu. Ya, pribadi atau pun instansi. Waktu zaman dulu yang luar biasa itu.
Kalau sekarang kan setiap instansi mungkin, karena dipotong anggaran wallahu alam. Banyak berkurang, banyak efisiensi sekarang. Banyak perampingan-perampingan,” tuturnya.
BACA JUGA : CMBBS Terapkan Kurikulum Cambridge
Kendati ekonomi lagi lesu, Dadang berharap hewan kurbannya bisa ludes terjual sebelum hari Idul Adha.
Menurutnya, meningkatnya biaya perawatan ternak pun menjadi faktor kelesuan para pedagang hewan kurban di Kota Serang.
“Biaya perawatan dan harga juga kan sekarang makin tinggi, karena kan biasanya si peternak itu untuk mendapatkan domba itu mungkin tidak semua orang ya.
Dia ngutang dulu karena dia tidak punya modal, sistemnya kepercayaan. Jadi utang dulu tapi tinggi harganya,” katanya.
Penjualan hewan kurban di Saung Ternak Terate Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu mengelami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Turunnya penjualan hewan kurban tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang membuat harga serba naik termasuk hewan kurban.
Owner Saung Ternah Terate Irfan mengatakan, penjualan hewan kurban pada tahun ini cenderung menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu.
“Saya telepon ke teman-teman juga infonya penjualannya agak turun dan memang di kami juga agak turun. Tapi turunnya enggak signifikan,” ujarnya di tempat usahanya, Senin (18 Mei 2026).
BACA JUGA : Bahrul Ulum Ajak Alumni Berkotribusi Pada Almamater
Ia menjelaskan, harga sapi juga mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan hewan kurban pada tahun sebelumnya.
“Lumayan signifikan juga naiknya, untuk sapi naiknya di kisaran Rp2 jutaan. Kebetulan sapi ini didatangkan dari dua daerah, satu dari Lampung, satu dari Bali,” katanya.
Irfan menuturkan, pada tahun ini ada 200 ekor sapi yang sudah terjual untuk kebutuhan hewan kurban, namun jumlah tersebut tidak sebanyak tahun lalu.
“Ada 200 ekor dan semua sapi yang ada di sini sudah terjual semua. Kekurangan kita sekitar 20 sampai 30 ekor lagi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, untuk domba rencananya ada 70 ekor yang dijual untuk dijadikan hewan kurban dari total 200 ekor domba.
“Untuk domba yang siap jual ada 70 ekor, tapi total seluruh domba yang ada di kita sebanyak 200 ekor,” paparnya.
Pihaknya memastikan, hewan yang dijual dalam keadaan sehat dan belum ada serangan penyakit pada hewan kurban seperti penyakit kuku dan mulut (PMK) atau penyakit lainnya.
“Ada juga karena faktor kelelahan di perjalanan. Tahun kemarin seperti PMK brutal sekali menyerang semua hewan, Kalau tahun ini alhamdulillah PMK meredup,” tuturnya.
BACA JUGA : Pesantren Ibnu Syam Wisuda 45 Santri
Di Pandeglang, transaksi jual beli hewan kurban juga sepi, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Memang tahun ini mah pembeli agak sepi. Enggak seperti tahun lalu, biasanya menjelang Idul Adha banyak yang beli kambing,
tapi tahun ini mah belum ada yang pesan,” keluh Ifan, ditemui di lapak penjualan kambing miliknya di Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang.
Dia mengatakan, hewan kurban jenis kambing yang dijualnya relatif murah. Lantaran hewan miliknya hasil dari pada ternak, bukan berasal dari luar daerah.
BACA JUGA : Gadis Cantik Dianiaya Pacar
“Kambing punya saya hasil ternak. Untuk harga murah meriah, dari Rp3 juta sampai Rp 5 juta,” ujarnya.
Nawasi, penjual hewan kurban lainnya menuturkan, penjualan hewan kurban belum menunjukkan lonjakan pembeli menjelang Hari Raya Idul Adha. “Tahun ini agak kurang, tidak seperti tahun-tahun kemarin,” tuturnya.
Faktor pelemahan ekonomi di tingkat masyarakat menjadi penyebab utama minimnya warga yang menunaikan ibadah kurban tahun ini menurun.
Menurut Nawasi, biasanya H-1 Idul Adha pembeli hewan kurban sudah banyak yang pesan. Namun tahun ini belum ada yang membeli.
“Biasanya sebelum tanggal-tanggal sekarang sudah banyak yang beli. Sekarang yang langganan saja belum ada yang beli,” ujarnya.
Dekan Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Tubagus Ismail mengungkapkan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka masyarakat ekonomi menengah mengalami tren penurunan menjadi kelompok masyarakat rentan kemiskinan.
Dari data BPS tersebut, tentunya akan mempengaruhi masyarakat yang melaksanakan kurban tahun ini, sebab masyarakat yang melaksanakan kurban biasanya masyarakat ekonomi menengah dan atas.
Menurutnya, peredaran uang yang ada saat ini tidak menyasar masyarakat ekonomi menengah dan bawah.
BACA JUGA : Tagih Pajak Kendaraan Door To Door, Warga Serasa Ditagih Utang
Artinya, pertumbuhan ekonomi tinggi tapi kualitasnya rendah, karena peredaran uangnya tidak dirasakan oleh masyarakat ekonomi menegah dan bawah.
“Jadi wajar jika jumlah masyarakat yang berkurban menurun. Untuk kebutuhan sehari-hari saja, masyarakat ekonomi menengah dan bawah kurang mampu untuk memenuhinya, apalagi untuk membeli hewan kurban,” katanya.
Terpisah, Dekan Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten Iin Ratna Sumirat menyampaikan,
berdasarkan Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi kurban di Indonesia pada 2025 mengalami penurunan signifikan menjadi Rp27,1 triliun, turun dari Rp28,3 triliun pada 2024.
BACA JUGA : Konsisten Lahirkan Penulis di Banten
Jumlah masyarakat yang berkurban pun menyusut menjadi 1,92 juta orang dari sebelumnya 2,16 juta orang, berkurang sekitar 233 ribu dalam satu tahun.
“Hal yang lebih mengejutkan, angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan masa pandemi Covid-19, dimana nilai ekonomi kurban sempat mencapai Rp28 triliun pada 2021 dan 2022,” ucapnya.
Ia menjelaskan, faktor utama penurunan ini antara lain PHK massal, melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional, serta menurunnya tabungan masyarakat lintas kelas pendapatan.
Kondisi ini diperparah dengan kurang memadainya kebijakan negara untuk menjaga daya beli kelas menengah, sehingga ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 hanya tumbuh 4,87 persen.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten mengklaim penjualan hewan kurban di wilayah Banten jelang Hari Raya Idul Adha 2026 tetap stabil meski kebutuhan hewan kurban mengalami peningkatan dan pasokan lokal masih belum mencukupi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten M Nasir mengatakan, aktivitas penjualan hewan kurban tahun ini diperkirakan tidak berbeda jauh dibanding tahun sebelumnya.
Menurutnya, tradisi masyarakat untuk berkurban setiap tahun masih cukup kuat, sehingga jumlah pedagang maupun titik penjualan hewan kurban di Banten relatif tetap.
“Kalau saya melihatnya nggak menurun ya, karena kan kurban ini bagian dari tradisi masyarakat yang mereka menyisihkan uang untuk berkurban setahun sekali.
BACA JUGA : Tohirin, Dari Pramuka Bisa Keliling Indonesia
Tahun kemarin saja kalau saya tidak salah ada sekitar 2.000 titik penjual hewan kurban di Banten, tahun ini juga sekitar segitu,” ujar Nasir, Senin, (18 Mei 2026).
Nasir menjelaskan, meski jumlah lapak hewan kurban saat ini dianggap belum terlalu ramai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Akan tetapi, kata dia, hal itu masih dalam kondisi tersebut masih wajar, karena distribusi hewan kurban dari luar daerah masih terus berlangsung menjelang Hari Raya Idul Adha.
“Kalau kita bicaranya se-Banten ya banyak, nggak berkurang. Ya karena kan memang pasokan hewan qurban kita juga banyak didatangkan dari luar. Dan kita optimis bahwa tidak ada penurunan (pembelian hewan qurban),” jelasnya.
BACA JUGA : Abah Jempol Dituntut 3,5 Tahun Penjara
Ia mengatakan, kebutuhan hewan kurban di Banten tahun ini justru mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, kebutuhan hewan kurban pada Idul Adha 2026 diproyeksikan mencapai 63.171 ekor atau meningkat dibanding tahun lalu yang berada di kisaran 61 ribu ekor.
Namun dari total kebutuhan tersebut, ketersediaan hewan kurban dari peternak lokal baru mencapai sekitar 11.969 ekor atau sekitar 19 persen.
“Artinya Banten masih defisit sekitar 51.202 ekor hewan kurban,” katanya.
BACA JUGA : Bahrul Ulum Ajak Alumni Berkotribusi Pada Almamater
Nasir menjelaskan, sebagian besar kebutuhan hewan kurban di Banten masih dipasok dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa dan Sumatera seperti Lampung. Selain itu, sejumlah pasokan juga berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Ya tadi itu, sebagian besar memang kita datangkan dari luar daerah. Ada banyak dari lokal juga, tapi kan perputarannya cepat, jadi kita juga datangkan dari luar,” ujarnya.
Nasir menuturkan, untuk kebutuhan sapi kurban tahun ini diperkirakan mencapai 14.409 ekor, sementara stok lokal baru sekitar 1.946 ekor.
Kemudian kebutuhan kambing diproyeksikan mencapai 26.022 ekor dengan ketersediaan sekitar 6.122 ekor. Sedangkan kebutuhan domba mencapai 22.224 ekor dengan stok sekitar 3.249 ekor.
BACA JUGA : Bahrul Ulum Ajak Alumni Berkotribusi Pada Almamater
Adapun kerbau menjadi satu-satunya jenis hewan yang stoknya relatif mencukupi, yakni tersedia sekitar 652 ekor dari kebutuhan sekitar 516 ekor.
Selain tingginya kebutuhan, momentum Iduladha tahun ini juga diperkirakan memicu perputaran ekonomi yang besar di sektor perdagangan hewan kurban.
“Kami memprediksi total transaksi penjualan hewan kurban di Banten dapat mencapai sekitar Rp414,2 miliar.
Untuk sapi potong saja diperkirakan mencapai Rp259,3 miliar dengan asumsi harga sekitar Rp18 juta per ekor. Apalagi domba atau kambing yang super-super itu kan harganya bisa Rp4 juta sampai Rp5 juta per ekornya,” kata Nasir.
BACA JUGA : AGIS Kindergarten and Primary Kota Serang, Komitmen Ciptakan Generasi Berkarakter
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Banten Ari Mardiana mengatakan, pihaknya telah menerjunkan ratusan petugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hewan di lapak-lapak penjualan.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan hewan kurban yang masuk ke wilayah Banten dalam kondisi sehat dan aman.
“Mereka sudah mulai melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban yang ada di lapak-lapak penjualan,” ujarnya.
Menurut Ari, terdapat tiga penyakit utama yang saat ini diwaspadai, yakni Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), serta antraks dan brucellosis.
Meski begitu, ia memastikan kondisi PMK di Banten masih terkendali dan tidak ditemukan kasus sepanjang tahun lalu.
“Pada tahun 2025 lalu tidak ditemukan kasus PMK di Banten atau nol kasus, harapannya di tahun 2026 juga masih sama,” ujarnya. (harir/yanadi/satibi/raffi)





